Rabu, 14 Maret 2012

Teori Abraham Maslow


TUGAS KELOMPOK
PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II
TEORI HOLISME & HUMANISME
“ ABRAHAM MASLOW”









Disusun Oleh Kelompok 8 :

                               Citra Widya Kandy Aprilya                (110541100002)
                               Nastaghfiruka Asmarani Zenja           (110541100008)
                               Siti Hardiningsih                                   (110541100020)
                               Nila Maharani Cahyanda                     (110541100056)


UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB.I PENDAHULUAN
         a. Riwayat Hidup
BAB. II PEMBAHASAN
a.     Teori Holisme dan Humanisme
b.     Teori Hirarki Kebutuhan
c.      Organisasi Kepribadian
BAB. III PENUTUP
         a.  Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA










KATA PENGANTAR

Alhamdullilah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Berkat
limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini tepat waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun untuk menambah nilai tugas kelompok Psikologi Kepribadian II
di Universitas Trunojoyo Madura
Makalah ini telah disusun oleh kami dengan usaha yang maksimal. Namun,apabila menurut pembaca masih ada kekurangan dan kesalahan.
Kami harapkan saran perbaikan yang sifatnya membangun. Demi kesempurnaan makalah selanjutnya.




Bangkalan, 13 Maret 2012


Penyusun











BAB I
PENDAHULUAN

A.  Riwayat Hidup

Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi Rusia dengan orangtua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding anak lain sebayanya. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anak Yahudi yang tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi. Ia merasa terisolasi dan tidak bahagia pada masa itu. Ia bertumbuh di perpustakaan di antara buku-buku. Ia awalnya berkuliah hukum, namun pada akhirnya, ia memilih untuk mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas
Wisconsin. Pada saat ia berkuliah, ia menikah dengan sepupunya yang bernama Bertha pada bulan desember 1928 dan bertemu dengan mentor utamanya yaitu profesor Harry Harlow.Ia memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan Ph.D pada 1934. Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia dan masih mendalami
subjek yang sama. Di sana ia bertemu dengan mentornya yang lain yaitu Alfred Adler, salah satu kolega awal dari Sigmund Freud. Pada tahun 1937-1951, Maslow memperdalam ilmunya di Brooklyn College.
Di New York, ia bertemu dengan dua mentor lainnya yaitu Ruth Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer seorang Gestalt psikolog, yang ia kagumi secara profesional maupun personal. Kedua orang inilah yang kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami perilaku manusia, kesehatan mental, dan potensi manusia. Ia menulis dalam subjek-subjek ini
dengan mendalam. Tulisannya banyak meminjam dari gagasan-gagasan psikologi, namun dengan pengembangan yang signifikan. Penambahan tersebut khususnya mencakup hirarki kebutuhan, berbagai macam kebutuhan, aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman. Maslow menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950
hingga 1960-an. Pada masa ini, ia dikenal sebagai "kekuatan ke tiga" di samping teori Freud dan behaviorisme.
Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjabat ketua departemen psikologi di sana selama 10 tahun. Di sinilah ia bertemu dengan Kurt Goldstein (yang memperkenalkan ide aktualisasi diri kepadanya) dan mulai menulis karya-karyanya sendiri. Di sini ia juga mulai mengembangkan konsep psikologi humanistik. Ia menghabiskan masa pensiunnya di California, sampai akhirnya ia meninggal karena serangan jantung pada 8 Juni 1970. Kemudian, Pada tahun 1967,Asosiasi Humanis Amerika menganugerahkan gelar Humanist of the Year.



BAB II
PEMBAHASAN

A. HOLISME DAN HUMANISME

Teori Abraham Maslow dimasukkan kedalam paradigma traits karena teori itu menekankan pentingnya peran kebutuhan dalam pembentukan kepribadian. Dalam hal ini kedudukan Maslow menjadi unik. Pada mulanya dia adalah pengikut setia John Watson, sehingga dapat dimasukkan kedalam kelompok behavioris. Namun kemudian menyadari bahwa behaviorisme dan psikoanalisis yang mengembangkan teori berdasarkan penelitian binatang dan orang neorotik, tidak berhasil menangkap keajaiban nilai-nilai kemanusiaan. Abraham Maslow akhirnya menjadi orang pertama yang memproklamirkan aliran humanistik sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi (kekuatan pertama: psikoanalisis, dan kekuatan kedua: behaviorisme)

HUMANISME
Humanisme menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self-realization). Humanisme menentang pesimisme dan keputus-asaan pandangan psikoanalitik dan konsep kehidupan "robot" pandangan behaviorisme. Humanisme yakin bahwa manusia memiliki didalam dirinya potensi untuk berkembang sehat dan kreatif, dan jika orang mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri, dia akan menyadari potensinya, mengatasi pengaruh kuat dari pendidikan orang tua, sekolah, dan tekanan sosial lainnya. Pandangan humanisme dalam kepribadian menekankan hal-hal berikut :

Holisme
Holisme menegaskan bahwa organisme selalu bertingkah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian/ komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang terpisah tetapi bagian dari satu kesatuan, dan apa yang terjadi dibagian satu akan mempengaruhi bagian lain. Hukum yang berlaku umum mengatur fungsi setiap bagian. Hukum inilah yang mestinya ditemukan agar dapat difahami berfungsinya tiap komponen.
Pandangan holistik dalam kepribadian, yang terpenting adalah ;
1. Kepribadian normal ditandai oleh unitas, integrasi, konsistensi, dan koherensi (unity,    
    integration, consistency, dan coherence). Organisasi adalah keadaan normal, dan
   disorganisasi berarti patologik.
            2. Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada
                bagian yang dapat dipelajari dalam isolasi. Keseluruhan berfungsi menurut hukum-
                hukum yang tidak terdapat dalam bagian-bagian.
            3. Organisme memiliki satu drive yang berkuasa yakni aktualisasi diri (self actualization).
                Orang berjuang tanpa henti (continous) untuk merealisasi potensi inheren yang
                dimilikinya pada ranah manapun yang terbuka baginya.
            4. Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal. Potensi
                organisme, jika bisa terkuak dilingkungan yang tepat, akan menghasilkan kepribadian        
                yang sehat dan integral.
            5. Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna daripada penelitian
                ekstensif terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang diisolir.

Menolak Riset Binatang
Psikologi humanistik menekankan perbedaan antara tingkah laku manusia dengan tingkah laku binatang. Riset binatang memandang manusia sebagai mesin dan mata rantai refleks-kondisioning, mengabaikan karateristik manusia yang unik seperti idea, nilai-nilai, keberanian, cinta, humor, cemburu, dosa, serta puisi, musik, ilmu, dan hasil kerja berfikir lainnya. Menurut Maslow, behaviorisme secara filosofis berpandangan dehumanisme.

Manusia Pada Dasarnya Baik, Bukan Setan
Menurut Maslow, manusia memiliki struktur psikologi yang analog dengan struktur fisik: mereka memiliki "kebutuhan, kemampuan, dan kecenderungan yang sifat dasarnya genetik." Beberapa sifat menjadi ciri umum kemanusiaan, sifat-sifat lainnya menjadi ciri unik individual. Kebutuhan, kemampuan dan kecenderungan itu secara esensial sesuatu yang baik, atau paling tidak sesuatu yang netral, itu bukan setan. Pandangan Maslow ini menjadi pembaharuan terhadap pakar yang menganggap kebutuhan dan tendensi manusia itu buruk atau antisosial (misalnya, apa yang disebut dosa warisan oleh ahli agamadan konsep id dari Freud). Sifat setan yang jahat, destruktif dan kekerasan adalah hasil dari frustasi atau kegagalan memuaskan kebutuhan dasar, dan bukan bagian dari hereditas. Manusia mempunyai struktur yang potensial untuk berkembang positif.

Potensi Kreatif
Kreatifitas merupakan ciri universal manusia, sejak dilahirkan. Itu adalah sifat alami, sama dengan sifat biji yang menumbuhkan daun, burung yang terbang, maka manusia kreatif. Kreativitas adalah potensi semua orang, yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan yang khusus. Sayangnya, umumnya orang justru kehilangan kreativitas ini karena proses pembudayaan (enculturated). Termasuk didalamnya pendidikan formal, yang memasung kreativitas dengan menuntut keseragaman berfikir kepada semua siswanya. Hanya sedikit orang yang kemudian menemukan kembali potensi kreatif yang segar, naif, dan langsung, dalam memandang segala sesuatu.

Menekankan Kesehatan Psikologik
Pendekatan humanistik mengarahkan pusat perhatiannya kepada manuasia sehat, kreatif dan mampu mengaktualisasi diri. Maslow berpendapat psikopatologi umumnya hasil dari penolakan, frustasi atau penyimpangan dari hakikat alami seseorang. Dalam pandangan ini, apa yang baik adalah semua yang memajukan aktualisasi diri, dan yang buruk atau abnormal adalah segala hal yang menggagalkan atau menghambat atau menolak kemanusiaan sebagai hakikat alami. Karena itu, Psikoterapi adalah usaha mengembalikan orang ke jalur aktualisasi dirinya dan berkembang sepanjang lintasan yang diatur oleh alam didalam dirinya. Teori psikoanalisis tidak komprehensif karena didasarkan pada tingkah laku abnormal atau tingkah laku sakit. Maslow berpendapat bahwa penelitian terhadap orang lumpuh dan neorotik hanya akan menghasilkan psikologi "lumpuh" karena itu dia justru meneliti orang yang berhasil merealisasikan potensi secara utuh, memiliki aktualisasi diri, memakai dan mengeksploitasi sepenuhnya bakat, kapasitas dan potensinya. Objek penelitiannya adalah orang-orang yang terkenal, tokoh-tokoh idola yang kreativitas dan aktualisasi dirinya mendapat pengakuan dari masyarakat luas, misalnya: Eleanor Roosevelt, Albert Einstein, Walt Whiteman, dan Ludwig Bethoven.

B. MOTIVASI : TEORI HIRARKI KEBUTUHAN

Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. setiap. jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya kalau jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan. Hubungan Antar Kebutuhan
Jenjang motivasi bersifat mengikat, maksudnya; kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus relatif terpuaskan sebelum orang menyadari atau dimotivasi oleh kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi. Jadi, kebutuhan fisiologis harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebuutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, baru muncul kebutuhan kasih sayang, begitu seterusnya sampai kebutuhan dasar terpuaskan, -baru akan muncul kebutuhan meta.

Kebutuhuan Rendah versus Kebutuhan Tinggi

Pada umumnya kebutuhan yang lebih mempunyai kekuatan atau kecenderungan yang lebih untuk di prioritaskan.
Perbandingan antara kebutuhan-kebutuhan itu dipostulatkan oleh Moskow sebagai berikut :
  1. Kebutuhan meta muncul belakangan dalam evolusi perkembangan manusia. Semua makhluk hidup membutuhkan makan dan minum tetapi hanya manusia yang memiliki aktualisasi diri, mengetahui dan memahami.
  2. Kebutuhan yang lebih tinggi muncul belakangan dalam perkembangan individu. Aktualisasi diri mungkin baru akan muncul pada usia pertengahan. Bayi hanya memiliki kebutuhan fisiologis dan keamanan dan pada masa adolesen muncul belonging, cinta dan esteem.
  3. Kebutuhan yang semakin lebih tinggi, semakin kurang kaitannya dengan usaha mempertahankan kehidupan, perolehan kepuasannya bisa ditunda semakin lama. Gagal memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi tidak mengakibatkan keadaan darurat atau reaksi krisis seperti pada kegagalan memuaskan kebetuhan yang lebih rendah.
  4. Kebutuhan meta memberi sumbangan yang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang, dalam bentuk kesehatan yang lebih baik, usia panjang, dan memperluas efisiensi biologis. Karena alasan-alasan itulah kebutuhan meta disebut juga kebutuhan berkembang atau kebutuhan menjadi (growth need or being need).
  5. Kebutuhan yang lebih rendah hanya menghasilkan kepuasan biologis, sedang kebutuhan yang lebbih tinggi memberi keuntungan biologis dan psikologis karena menghasilkan kebahagiaan yang mendalam, kedamaian jiwa, dan keutuhan kehidupan batin.
  6. Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi melibatkan lebih banyak persyaratan dan lebih kompleks dibanding kepuasan pada tingkat yang lebih rendah. Misalnya, usaha memporoleh aktualisasi diri memerlukan prasyarat: semua kebutuhan sebelumnya telah dipuaskan dan melibatkan tingkah laku dan tujuan yang lebih rumit dan canggih dibanding usaha mendapat makanan.
  7. Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi memerlukan kondisi eksternal-sosial, ekonomi, politik- yang lebih baik dibanding kepuasan pada tingkat yang lebih rendah. Misalnya aktualisasi diri memerlukan kebebasan ekspresi dan memperoleh peluang dibanding kebutuhan rasa aman.

Kebutuhan Dasar 1: Kebutuhan Fisiologis
Umumnya kebutuhan fisiologis bersifat homeostatic (usaha menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik) seperti makan, minum, gula, garam, serta kebutuhan istirahat dan seks. Bisa terjadi kebutuhan fisiologis harus dipuaskan oleh pemuas yang seharusnya tetapi ada juga kebutuhan yang dapat dipuaskan dengan pemuas yang lain.

Kebutuhan Dasar 2: Kebutuhan Keamanan (Safety) 
Sesudah kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya, muncul kebutuhan keamanan, stabilitas, proteksi, struktur hukum, keteraturan, batas, kebebasan dari rasa takut dan cemas. Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada dasarnya adalah kebutuhan mempertahankan kehidupan. Kebutuhan fisiologis adalah pertahanan hidup jangka pendek, sedangkan keamanan adalah pertahanan hidup jangka panjang.
Kebutuhan keamanan sudah muncul sejak bayi, dalam bentuk menangis dan berteriak ketakutan karena perlakuan yang kasar. Pengasuhan yang bebas tidak mengenakan batasan-batasan, misalnya tidak mengatur interval kapan bayi tidur dan kapan makan, akan membuat bayi bingung dan takut, bayi tidak terpuaskan kebutuhan keamanan dan keselamatannya.
Menurut Maslow gejala neurotik obsesif –kompulsif banyak dilatarbelakangi oleh kegagalan memenuhi kebutuhan keamanan. Misalnya orang berulang-ulang meneliti pintunya sudah terkunci atau belum.


Kebutuhan Dasar 3: Kebutuhan Dimiliki dan Cinta (Belonging dan Love)  
Sesudah kebutuhan fisiologis dan keamanan relatif terpuaskan, kebutuhan dimiliki atau dari kelompok social dan cinta menjadi tujuan yang dominan. Maslow menolak pandangan Freud bahwa cinta adalah sublimasi dari insting seks. Menurutnya, cinta tidak sinonim dengan seks, cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan mempercayai.
Ada dua jenis cinta (dewasa) yakni Deficiency atau D-love dan Being atau B-love. Kebutuhan cinta karena kekurangan, itulah D-love; orang yang mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti harga diri, seks, atau seseorang yang membuat dirinya menjadi tidak sendirian. D-love adalah cinta yang mementingkan diri sendiri, lebih memperoleh daripada memberi.
B-love di dasarkan pada penilaian mengenai orang lain apa adanya, tanpa keinginan memanfaatkan orang itu. Menurut Maslow, kegagalan memenuhi kebutuhan dimiliki dan cinta menjadi sebab hampir semua bentuk psikopatologi.

Kebutuhan Dasar 4: Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem)
Manakala kebutuhan dimiliki dan cinta telah relatif terpuaskan, kekuatan motivasinya melemah, diganti motivasi harga diri. Ada dua jenis harga diri:
  1. Menghargai diri sendiri (self respect): orang membutuhkan pengetahuan tentang dirinya sendiri bahwa dirinya berharga, mampu menguasai tugas dan tantangan hidup.
  2. Mendapat penghargaan dari orang lain (respect from others): orang membutuhkan pengetahuan bahwa dirinya dikenal baik dan dinilai baik oleh orang lain.
Menurut Maslow, penghargaan dari orang lain hendaknya diperoleh berdasarkan penghargaan diri kepada diri sendiri.

Kebutuhan Meta: Kebutuhan Aktualisasi Diri
Akhirnya sesudah semua kebutuhan dasar terpenuhi, muncullah kebutuhan meta, kebutuhan menjadi sesuatu yang orang itu mampu mewujudkannya secara maksimal seluruh bakat-kemampuan-potensinya. Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri untuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya.
Empat kebutuhan dasar adalah kebutuhan karena kekurangan atau D-need (deficiency need), sedangkan kebutuhan meta adalah kebutuhan karena ingin berkembang-ingin berubah, ingin mengalami trasformasi menjadi lebih bermakna atau B-need (being need). Menurut Maslow kebutuhan dasar berisi kebutuhan konatif sedangkan kebutuhan meta berisi kebutuhan estetik dan kebutuhan kognitif.
Kebutuhan Neurotik
Kepuasan kebutuhan hirarkis ( konatif ,estetis , kognetif ) menjadi dasar dari kesehatan fisik dan psikis seseorang, dan frustasi karena kegagalan memperoleh kepuasan akan menimbulkan gangguan , penyakit  pada saraf  tertentu . Maslow mengemukakan, manusia masih mempunyai satu kebutuhan, yakni kebutuhan neurotic, yang bekerja terpisah dari tiga kebutuhan itu .  Frustasi karena kebutuhan hirarkis tidak terpenuhi, dalam keadaan yang ekstrim dan berjangka lama dapat berubah menjadi kebutuhan neurotik.  Sesudah berubah wujud menjadi kebutuhan neuritik, kebutuhan ini membuat system sendiri yang terpisah dari sisten kebutuhan yang sehat.  Kebutuhan neurotic membuat orang mengalami stagnan atau patologis tidak peduli apakah kebutuhan itu terpenuhi atau tidak terpenuhi.
Kebutuhan neurotik bersifat nonproduktif, mengembangkan gaya hidup yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak memiliki nilai dalam kaitan dengan perjuangan mencapai aktualisasi diri, gaya hidup reaktif, berperan sebagai kompensasi dari kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Orang yang kebutuhan keamanannya tidak terpuaskan, mungkin mengembangkan keinginan yang kuat untuk menimbun uang dan harta benda.  Dorongan menimbun semacam itu adalah dorongan neurotik, tidak berharga sebagai motivator menuju kesehatan jiwa .

Mencapai Aktualisasi diri
Aktualisasi diri dapat dipandang sebagai kebutuhan tertinggi dari suatu hirarki kebutuhan, namun juga dapat di pandang sebagai tujuan final,tujuan ideal dari kehidupan manusia. Konsep tujuan hidup motivator ini mirip dengan konsep arsetif-self dari jung, kekuatan-kreatif-self dari adler, ataupun realisasi dari horney.  Menurut Maslow , tujuan aktualisasi diri itu bersifat alami, yang dibawa sejak lahir. 
Kebutuhan neurotik merupakan perkembangan kebutuhan yang menyimpang dari jalur alami. Menurut Maslow penolakan,frustasi,dan penyimpangan dari perkembangan hakekat alami akan menimbulkan psikopatologi. Dalam pandangan ini,apa yang baik adalah semua yang mendekat ke aktualisasi diri, dan yang buruk atau abnormal adalah segala hal yang menggagalkan atau menghambat atau menolak aktualisasi diri sebagai hakekat alami kemanusiaan. Karena itu psikoterapi adalah usia mengembalikan orang ke jalur aktualisasi dirinya dan perkembangan sepanjang lintasan yang diatur alam di dalam dirinya.

Pengembangan diri
Orang gagal mencapai aktualisasi diri karena mereka takut menyadari kelemahan dirinya sendiri. Maslow mengemukakan dua jalur untuk mencapai aktualisasi diri , yaitu: 1.  jalur belajar  (mengembangkan diri secara optimal pada semua tingkat kebutuhan hirarkis) , dan 2. Jalur pengalaman puncak.
Ada delapan model tingkahlaku yang harus di pelajari dan dilakukan agar orang dapat mencapai aktualisasi diri melalui jalur belajar-pengembangan diri,sebagai berikut:
1. Alami sesuatu dengan utuh , gambling, tanpa pamrih.
2. Hidup adalah perjalanan proses memilih antara keamanan(jauh dari rasa sakit dan kebutuhan  
    bertahan) dengan resiko (demi kemajuan dan pengembangan).
3. Biarkan self  tegak.
4. Apabila ragu, jujurlah.
5. dengar dengan seleramu sendiri,bersiaplah untuk tidak popular.
6. Gunakan kecerdasanmu ,kerjakan sebaik mungkin apa yang ingin kamu kerjakan, apakah itu    
    latihan jaru diatas tuas piano, mengingat setiap tulang-otot-hormon, atau belajar bagaimana
    memelitur kayu sehingga menjadi halus seperti sutra.

7. Buatlah pengalaman puncak (peak experience ) seperti terjadi, buang ilusi, dan panddangan
    salah, pelajari apa yang kamu tidak bagus dan kamu tidak potensial.
8. Temukan siapa dirimu ,apa pekerjaanmu,apa yang kamu senangi dan apa yang tidak kamu
    senangi ,apa yang baik dan buruk bagimu,kemana kamu pergi,apa misimu.

Pengalaman Puncak (Peak Experience )
Maslow menemukan dalam penelitiannya bahwa banyak orang yang mencapai aktualisasi diri ternyata mengalami pengalaman puncak: suatu pengalaman mistik mengenai perasaan  dan sensasi yang mendalam , psikologik dan fisiologik. Suatu keadaan dimana seseorang mengalami ekstasi-keajaiban-terpesona-kebahagiaan yang luar biasa ,seperti pengalaman keilahian yang mendalam, dimana saat itu diri seperti hilang atau mengalami transendesi. Maslow menerima gambaran penga  laman puncak yang disusun oleh William james, sebagai berikut:
1.      Tak terlukiskan ( ineffability) : subjek sesudah mengalami pengalaman puncak segera mengatakan bahwa itu adalah ekspresi keajaiban, yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, yang dapat di jelaskan kepada orang lain.  
2.      Kualits kebenaran  intelektual (neotic quality) : pengalaman puncak adalah pengalaman menemukan kebenaran dari hakekat intelektual.
3.      Waktunya pendek(transiency) : keadaan mistis tidak bertahan lama. Umumnya hanya berlangsung 30 menit atau paling lama satu atau dua jam ( jarang sekali ada yang berlangsung lebih lama), pengalaman itu menjadi kabur dan orang kembali ke dunianya sehari-hari.
4.      Pasif (passivity) : orang yang mengalami pengalaman mistis merasa kemauan dirinya tergusur ( abeyance), dan terkadang dia merasa terperangkap dan dikuasai oleh kekuatan yang sangat besar.
Pada mulanya Maslow berpendapat bahwa pengalaman puncak ini hanya dapat dialami oleh orang-orang tertentu saja, khususnya mereka yang sudah mencapai aktualisasi diri akan mengalaminya secara teratur berkali-kali.  Pengaruh pengalaman puncak berjangka lama-tidak mudah hilang(lasting), antara lain:
1.      Hilangnya simptom neurotik.
2.      Kecenderungan meihat diri sendiri lebih sehat.
3.      Perubahan pandangan mengenai orang lain dan hubungan dirinya dengan mereka.
4.      Perubahan pandangan diri mengenai dunia.
5.      Munculnya kreativitas,spontanitas,dan kemampuan mengekspresikan diri.
6.      Kecenderungan mengingat pengalaman puncak itu dan berusaha mengulanginya.
7.      Kecenderungan melihat kehidupan secara umum sebagai hal yang lebih berharga.
Dapat disimpulkan aktualisasi diri yang dicapai melalui pengalaman puncak membuat orang lebih religius,mistikal,sholeh,dan indah (poetical) dibandingkan dengan aktualisasi yang diperoleh melalui pengembangan diri (yang lebih praktis, membumi, terikat dengan urusan keduniaan). Namun secara umum orang mencapai aktualisasi diri mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1.Orentasinya realistic,memandang realitas secara efesien.
2. Menerima diri, orang lain, dan alam sekitar apa adanya.
3. Spontan,alami,sederhana.
4. Lebih memperhatikan masalah (problem –centered) alih-alih mempehatikan diri sendiri  
   (self-centered).
5. Berpendirian kuat dan membutuhkan privacy.
6. Otonom dan bebas dari kultur lingkungan.
7. Memahami orang dan sesuatu secara segar dan tidak stereotip.
8. Memiliki pengalaman mistikal atau spiritual, walaupun tidak harus religious.
9. Mengenal harkat kemanusiaan, memiliki minat social (gemeinschaft).
10.Cenderung memiliki hubungan akrab dengan sedikit orang tercinta alih-alih hubungan
     renggang dengan banyak orang.
11. Memiliki nilai dan sikap demokratis.
12. Tidak mengacaukan sarana dengan tujuan .
13. Rasa humornya filosofik, tidak berlebihan.
14. Sangat kreatif.
15. Menolak bersetuju dengan kultur .
16. Luluh dengan lingkungan alih-alih sekedar menanganinya.

C. ORGANISASI KEPRIBADIAN

Sindrom Kepribadian
Unit utama dari kepribadian adalah sindrom kepribadian (personality syndrome): senjumlah sifat-sifat yang berbeda (tingkahlaku,persepsi, fikiran, dorongan untuk berbuat, dll.) yang terorganisir dan berhubungan satu sama lain.
Maslow meneliti tiga sindrom yang terpenting, yakni sindrom harga diri (self esteem), sindrom keamanan (security), dan sindrom kecerdasan (intelectual). Penelitian dilakukan dengan menggukan metoda holistik-analitik.

Kekurangan dan menjadi (deficiency – being)
Menurut maslow, orang berhubungan dengan dunia luar dalam dua bentuk, alam-kekurangan  dan alam menjadi. Alam kekurangan atau D-realm adalah D-need, D-love, dll (D =deficiency=kekurangan.) dapat dikategorikan kegiatan memuaskan kebutuhan dasar unuk bertahan hidup – orang akan berusaha mengatasi kebutuhan makan, minum,istirahat.  Alam menjadi, atau B-realm adalam B-need, B-love, dan B – lainnya (B = being = menjadi.) adalah  hubungan orang dengan dunia luarnya sesudah kebutuhan dan motiv dasar terpenuhi. Orang kemudian telibat dalam mengembangkan aktualisasi diri dan memperluas eksistensi.
Sebagai tambahan untuk membedakan motiv/kebutuhan D dengan B, maslow membedakan menjadi dua, D-cognition dengan B-cognition. B-kognisi lebih diharapkan tetapi dapat membuat orang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan orang lain. Dan hal tersebut menurut maslow tidak baik. Perbedaan berfikir B-kognisi dengan   D-kognisi dapat dilihat pada tabel 25.
Personal orientation inventory (shostrom).
POI adalah tes mengenai aktualisasi diri, bertujuan untuk mengukur aktualisasi diri seseorang. Tes terdiri dari 150 item pilihan ganda, sadites diminta untuk memilih mana yang sesuai dengan dirinya, pernyataan(a) atau (b), mereka berhak untuk tidak menjawab pertanyaan tersebuat apabila tidak cocok dengan dirinya atau mereka sama sekali tidak tahu mengenai pertanyaan tersebut.
POI mempunyai 2 skala utama dan 10 subskala. Skor tinggi  pada 12 skala menunjukkan tingginya tingkat aktualisasi diri, sedang skor rendah memberi petunjuk kekurangan – kekurangan dalam nilai- nilai yang membuat orang terhambat mencapai aktualisasi diri. (sampel item POI. ada pada tabel 26).
Tabel 25
Perbandingan ciri-ciri D-kognisi dengan B-kognisi
D-kognisi
B-kognisi
Segala sesuatu dipandang tergantung kepada yang lain, sebagai tidak lengkap
Segala sesuatu dipandang utuh, lengkap
Beberapa aspek dari sesuatu yang diperhatikan; perhatian yang bersamaan diberikan kepada hal lain, faktor yang berkaitan atau kasual.
Segala sesuatu diperhatikan secara khusus dan dipandang mendalam dan menyeluruh.
Sesuatu dipandang sebagai anggota sari suatu kela, contoh, atau sampel
Segala sesuatu dipandang tidak berhubungan urusan manusia.
Segala sesuatu dipandang berhubungan dengan urusan manusia, kegunaannya, keberbahayaannya, dan semacamnya.
Segala sesuatu dipandang tidak berhubungan urusan manusia.
Segala sesuatu menjadi kurang menarik, kesamaan mengarah ke kebosanan.
Segala sesuatu menjadi semakin menarik dengan mengulang mengalaminya.
Pelaku mengalami bukan hanya obyek semata, tetapi obyek yang terikat dengan self. Ego menjadi titik pusat pengalaman.
Penerima pengalaman menjadi terlarut dan tidak memunculkan self; pengalaman diorganisir disekitar obyek alih-alih disekitar ego.
Segala sesuati dipandang sebagai sarana bagi yang lain.
Segala sesuatu dipandang berakhir. Sampai itu sebagai hal yang menarik secara hakiki (intrinsik).
Segala sesuatu dipandang pilah-pilah tidak saling berhubungan, sering bertentangan.
Dikotomi, polaritas, konflik antar segala sesuatu dipandang perlu dan dibutuhkan oleh keseluruhan.
Dunia dalam dan dunia luar dipandang sebagai yang semakin tidak sama.
Dunia dalam dan luar dipandang sebagai hal semakin sama.
Obyek dipandang sebagai hal yang normal, sehari-hari, tidak ada yang luar biasa.
Obyek sering dipandang dipandang sebagai suci, sakral, sangat spesial.
Hal yang serius dipandang sangat berbeda dengan sesuatu yang menyenangkan, humor adalah musuh atau tidak ada.
Dunia dan self sering dipandang menarik dan pedas; kelucuan dan tragis digabungkan; humor adalah filosofi.

Neurotik
Menurut maslow, manusia itu lahir dengan keininan dasar berkembang sehat, bergerak menuju aktualisasi diri. Gagal dalam mengembangkan keinginan dasar itu kan menimbulkan neurosis dan perkembangan abnormal.
Tabel 26
Sampel personal orientation inventory dari shostrom
skala
Sampel item
Skala utama 1
Time competence
1.    a. Saya selalu berusaha untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada     masa   yang akan datang.
b. Saya merasa tidak perlu berusaha meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

2.  a. Saya khawatir dengan masa depan saya.
     b. Saya khawatir dengan masa depan saya.
Skala utama 2
Inner direction
(support)
1.    a. Nilai-nilai moral saya, saya peroleh dari masyarakat.
b. nilai-nilai moral saya, saya tentukan sendiri.

2.  a. Saya merasa berdosa ketika mememntingkan diri saya sendiri
b. Saya tidak merasa berdosa ketika mememntingkan diri saya sendiri
Sub skala 1
Self-actualizing
values
1.    a. Saya sering membuat keputusan secara spontan.
b. Saya sering tidak pernah membuat keputusan secara spontan.
Sub skala 2
existentiality
1.    a. Saya merasa harus selalu mengatakan kebenaran
     b. Saya tidak selalu mengatakan kebanaran
Sub skala 3
Feeling reacivity
1.    a. Saya hidup dengan nilai-nilai yang sisetujui orang lain
     b. Saya hidup dengan nilai-nilai yang dasar utamanya dalam perasaan saya   sendiri
Sub skala 4
spotaneity
1.    a. saya harus menilai tingkah laku saya berdasarkan pencarian minat saya.
     b. Saya tidak harus menilai tingkah laku saya berdasarkan pencarian minat saya.
Sub skala 5
Self regard
1.    a. Penting bahwa orang lain menerima pandangan saya.
     b. Tidak penting bahwa orang lain menerima pandangan saya.
Sub skala 6
Self acceptance
1.    a. Saya mencoba untuk tulus hati, tetapi kadang-kadang gagal.
     b. Saya mencoba untuk tulus hati, dan saya selalu tulus hati.
Sub skala 7
Nature of man constructive
1.    a. Saya bermasalah dalam menyatukan seks dan cinta.
     b. Saya tidak bermasalah dalam menyatukan seks dan cinta.
Sub skala 8
synergy
1.    a. Manuasia itu sekaligus malaikat dan setan.
     b. Manusia itu tidak selalu memiliki dua sifat, malaikat san setan.
Sub skala 9
Acceptance of aggression
1.    a.Saya temukan beberapa orang yang bodoh dan tidak menarik.
     b. Saya tidak pernah menemukan beberapa orang yang bodoh dan tidak menarik.
Sub skala 10
Capacity for intimate contact
1.    a. Saya takut untuk bersikap ramah-lembut.
     b. Saya tidak takut untuk bersikap ramah-lembut.
Penderita neurotic adalah orang yang terhalang atau menghalangi diri sendiri dari memperoleh kepuasan kebutuhan dasar mereka sendiri. Halangan itu menghentikan gerak maju menuju aktualisasi diri. Jika orang tidak mempunyai makanan dan tempat tinggal, mereka tidak akan mencapai perkembangan potensi psikologis sepenuhnya. Individu yag merasa terancam dan tidak nyaman akan memiliki kepercayan diri dan harga diri yang rendah.
Psikoterapi
                 Menurut maslow, kepuasan kebutuhan dasar hanya dapat terjadi melalui hubungan interpersonal, karena itu terapi harus bersifat interpersnal. Suasana terapi  harus melibatkan rasa jujur, salingpercaya dan tidak difensif. Suasana itu juga mengijinkan ekspresi yang kekanak-kanakan dan memalukan.  Ekspresi kelemahan diri ini akan terjadi kalau hubungan terapi mendukung. Dalam suasana yang demokratis, terapis harus memberi klien penghargaan, cinta dan perasaan bahwa klien itu berada dalam alur perkembangan yang benar. Hubungan teraputik bukan hanya dibangun melalui cintayang diberikan kepada kliaen, tetapi juga ekspresi cinta dna afeksi dari klien kepada perapisnya. Klien secara umum didorong untuk menampilkan nilai-nilai yang berhubungan dengan perkembangan positif. Ia didorong untuk berani membuka diri, belajar memahami lebih lanjutmengenai kompleksitas kehidupan manusia. Maslow menyadari bahwa terapi yang suportif dan hangat tidak dapat dipakai dengan klien tertentu, misalnya mreka yang kronis, neurotik yang melibatkan ketidakpercayaan dan kemarahan kepada orang lain. Pada kondisi semacam itu, maslow yakin analisis memakai pendekatan freud lebih berhasil.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Teori Abraham Maslow dimasukkan kedalam paradigma traits karena teori itu menekankan pentingnya peran kebutuhan dalam pembentukan kepribadian. Dalam hal ini kedudukan Maslow menjadi unik.

Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan- kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

























DAFTAR PUSTAKA

Edward Hoffman. 1988. A Biography of Abraham Maslow. Los Angeles: Jeremy P. Tarcher.
Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Jakarta: UMM.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar